IPMAFA Ajak Mahasiswa Miliki Authentic Leadership di Era Disruptif


Foto: Kopertais10/Dok

PATI - Masyarakat saat ini dihadapkan pada zaman disruptif yang penuh dengan ketidakpastian. Zaman disruptif ini disebut juga dengan istilah "VUCA" (volatile, uncertain, complex, ambiguous) yang memiliki empat karakteristik yaitu kondisi yang mudah berubah, penuh dengan ketidakpastian, kompleks, dan ambigu.

Disrupsi ini semakin kelihatan dengan adanya perkembangan teknologi di segala lini sehingga menjadikan perilaku manusia yang abnormal menjadi dianggap normal. Keadaan tersebut tentu berdampak negatif dalam perkembangan generasi muda di masa depan khususnya dalam kepemimpinan. Oleh sebab itu penting bagi mahasiswa untuk dapat memahami konsep kepemimpinan yang otentik di tengah zaman disruptif ini.

Demikian orasi yang disampaikan Sus Budiharto S Psi Msi, Dosen Universitas Islam Indonesia, dalam Studium Generale IPMAFA 2018, Rabu (28/11/2018). Acara diikuti oleh kurang lebih 600 mahasiswa dari semester satu dan tiga dan para dosen di lingkungan IPMAFA.

Sus menyampaikan bahwa kepemimpinan yang otentik sangat penting dalam menghadapi kompleksnya permasalahan masyarakat yang timbul, ditambah lagi dari sejak era reformasi muncul banyak pemimpin negeri yang pragmatis dengan wawasan kebangsaan yang rapuh. Maka dengan adanya pemimpin otentik ini diharapkan mampu memstimulasi mahasiswa untuk menjadi pribadi yang unggul yang dapat mempengaruhi masyarakat sekitar dalam membangun peradaban bangsa yang lebih baik.

Lebih lanjut Sus memaparkan bahwa ada empat karakter kepemimpinan otentik yang harus dimiliki setiap mahasiswa yaitu: Self-Awareness (memahami identitas diri sendiri), Moral Perspective (sesuai standar moral dan akhlak yang berlaku), Balanced Processing (seimbang) , dan Relational Transparency (terbuka dan jujur)

Konsep ini menurutnya mirip dengan konsep kepemimpinan dalam perspektif Islam yang sudah diteladankan oleh Nabi Muhammad Saw. Kepemimpinan dalam Islam dijabarkan dengan empat sifat Rasul meliputi sidiq, amanah, tabligh dan fathanah. 

Sidiq dalam kepemimpinan menuntut adanya sikap yang jujur dan taat nurani, amanah berarti setia dan terpercaya, tabligh menuntut pribadi yang terbuka dan empatik, dan yang terakhir fathonah adalah sikap yang cerdas sekaligus problem solver dalam permasalahan yang timbul.

Penulis : red
Editor   : edt